Kontak Kami (0286) 321345
bag.prokompimwsb@gmail.com Jl. Soekarno-Hatta No. 2-4, Wonosobo

SALURKAN BANTUAN BAGI PEMULUNG TPA, PEMKAB WONOSOBO DORONG PENGELOLAAN SAMPAH DARI HULU

Wonosobo – Pemerintah Kabupaten Wonosobo bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Wonosobo menyalurkan bantuan sembako dan perlengkapan kesehatan kepada para pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wonorejo, sebagai bentuk apresiasi atas peran mereka dalam membantu pengelolaan sampah daerah, Rabu (7/1/2026)

Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat, S.Ag mengatakan, pemulung memiliki kontribusi nyata dalam memilah sampah sehingga membantu Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengurangi beban TPA. Oleh karena itu, Pemkab Wonosobo memandang mereka sebagai mitra strategis dalam pengelolaan sampah.

“Teman-teman pemulung berperan langsung dalam proses pemilahan sampah. Ini sangat membantu upaya kita mengurai permasalahan sampah. Melalui Baznas, hari ini kami memberikan apresiasi sekaligus perhatian terhadap aspek kesejahteraan dan kesehatan mereka,” ujar Bupati.

Menurut Bupati, risiko kesehatan pada profesi pemulung cukup tinggi. Ke depan, Pemkab Wonosobo akan mengupayakan peningkatan fasilitas pendukung keselamatan kerja, seperti sarung tangan dan sepatu boot, menyesuaikan dengan kemampuan anggaran yang ada.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Afif juga menyampaikan arah kebijakan pengelolaan sampah Kabupaten Wonosobo. Salah satunya adalah rencana perluasan lahan TPA sebagai langkah antisipatif, sekaligus komitmen menekan volume sampah yang masuk ke TPA melalui penguatan pengelolaan dari hulu.

“Kami terus mendorong agar pengelolaan sampah dapat diselesaikan di tingkat rumah tangga. Saat ini pembangunan TPS 3R bertahap dilakukan di tingkat kecamatan, dan desa. Di TPA Wonorejo sendiri, fasilitas 3R memiliki kapasitas sekitar 5 ton, sehingga yang dibawa ke TPA diharapkan hanya residunya,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala DLH Kabupaten Wonosobo Endang Lisdiyaningsih, S.Hut., M.M menyampaikan bahwa dibandingkan tahun 2024, volume sampah pada tahun 2025 mengalami penurunan rata-rata 10 hingga 15 ton per hari, meskipun belum signifikan.

“Ini menunjukkan bahwa upaya pengurangan sampah dari hulu mulai berjalan. Untuk tahun 2026, fokus kami adalah pengurangan dari sumber, optimalisasi TPS 3R, serta peningkatan kesadaran bahwa pengelolaan sampah memerlukan biaya operasional,” ungkapnya.

DLH Wonosobo juga telah mengembangkan hanggar pengolahan sampah di area TPA Wonorejo dengan kapasitas 5 ton sebagai laboratorium pengolahan, antara lain melalui budidaya maggot dan pengomposan. Ke depan, kapasitas tersebut ditargetkan meningkat hingga 50–100 ton dengan dukungan pembangunan sarana dan penguatan sumber daya manusia.

Ketua Baznas Kabupaten Wonosobo, Priyo menjelaskan, bantuan yang disalurkan merupakan hasil pengumpulan zakat Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten Wonosobo melalui program Wonosobo Sehat dan disalurkan secara rutin dua kali dalam setahun.

“Kali ini kami menyalurkan bantuan khusus untuk pemulung di TPA, berupa sembako dan perlengkapan kesehatan seperti masker. Seluruh paket bantuan telah disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” jelasnya.

Melalui sinergi antara Pemkab Wonosobo, DLH, dan Baznas, diharapkan pengelolaan sampah di Kabupaten Wonosobo semakin terarah, berkelanjutan, dan tetap memperhatikan aspek sosial serta kesehatan para pelaku di lapangan.